Sentuhan Jingga

Halloo...Welcome To My Blog,Sedapatnya saya suguhkan sesuatu yg mungkin bisa memberi makna pada semuanya... Ikuti juga sosial media saya yaa....


| | | |
Wahai Mannan wahai Karim Wahai Fattah wahai Halim
Aku setitik debu namun bersujud kepadaMu
Aku sehelai daun kering namun bertasbih kepadaMu
Aku budak yang kesepian namun yakin pada kasih sayang dan pembelaanMu

Read More
2010 Sentuhan Jingga
Home - Sitemap - About - Contact
Created by YE_PUISI
powered by Blogger

Senin, 16 Mei 2016

Puisi "Suatu Pagi Didesaku"


Diseberang pelataran
Kau berdiri angkuh
Tanganmu mengepal nasib
Hampir tak ada senyum dan lagu
Apalagi puisi itu 
Telah kau lempar dalam dalam
Hingga tangisan yg biasa merdu
Kini terdengar seperti derit roda kereta yg lapuk.
Dan senyum kecut sisais.

Menarik beribu beban sayuran .
Kotoran kuda
Kita adalah sama.
Diantara derap langkahnya.
Aku dan gilaku adalah satu.
Tak beda.Kau dan angkuhmu.Tak lain

"Meski aku masih dibalut sangsi.
Diapit Riuh derapmu hentakkan pagi
Sumbu yg pudar
Nyala pelita jiwa tercemar
Malamku robek misteri.
Kupagut kau dalam sunyi
Sedangkan angkuhmu kugauli
Basah lidahku mengecup manismu
Tak sabar ingin kutuntaskan nikmatku
Dan yang kutau
Begitu indahnya rupamu.
Seperti sunyi yg kupuja
Atau puisi yg kueja.

8 aoril 2016.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Entri Populer

Entri yang Diunggulkan

Obat budeg

Susi pergi periksa ke dokter “Kenapa Anda, Bu?” tanya Pak Dokter. Susi kemudian bercerita, “Ini Dok, sudah sebulan ini saya kok jadi seri...